SAHABAT SAHABAT MAYA

Monday, November 3, 2008

APAKAH HUKUM MAKAN KATAK?


Disini saya yang serba kekurangan ilmu agama membawa beberapa artikel yang ditulis oleh beberapa penulis blog yang saya kira mempunyai ilmu fiqh yang tinggi bersama dengan dalil-dalilnya dan hujah-hujah para alim ulamak.
Antaranya:


1) Artikel Alexwathern



Saya bukanlah seorang ulama ataupun alim bidang fiqh. Lagipun fiqh bukanlah pengkhususan saya. Sungguhpun begitu, sefaham saya empat mazhab yang muktabar berpendapat:


MAZHAB SYAFIE
Umumnya berpendapat katak tidak boleh dimakan.


MAZHAB HANAFI
Umumnya berpendapat katak tidak harus dimakan


MAZHAB HANBALI
Umumnya berpendapat katak haram dimakan


MAZHAB MALIKI
Umumnya berpendapat katak HARUS dimakan


YANG TIDAK BERMAZHAB
Saya tidak/ belum tahu pendapat mereka


Kesimpulan kecilnya, saya melihat banyak ulama yang TIDAK MENGHARUSKAN memakan katak. Oleh kerana saya tidak mahir bidang fiqh dan dalam hal ini, saya rasa tidaklah menjadi kesalahan kalau ada umat Islam yang lebih senang mengikut pendapat mereka.


Kebetulan ada pula riwayat-riwayat yang melarang saja-saja membunuh katak seperti:


Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Abdur Rahman bin Abdul Wahhab, mereka berdua telah berkata: telah memberitahu kepada kami Abu Aamir al-Aqdi telah memberitahu kepada kami Ibrahim bin al-Faqhl daripada Said bin al-Maqburi daripada Abu Hurairah katanya bahwa Rasulullah melarang daripada membunuh surah (sejenis burung), katak, semut dan belatuk.
( Ibnu Majah)


Telah memberitahu kepada kami Ubaidullah bin Abdul Majid telah memberitahu kepada kami Ibn Abu Zib dari Said bin Khali dal-Qarizi dari Said bin al-Musaiyyib dari Abdul Rahman bin Uthman bahwa Rasulullah telah melarang membunuh katak.
(an-Nasa’i)


Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad pernah seorang hendak menjadikan katak sebagai ubat tetapi ditegah oleh Rasulullah. Hadis ini disahihkan oleh Imam al-Hakim.


Sesetengah pihak mengatakan hadis-hadis ini dhaif, tetapi gabungan ketiga-tiganya menguatkan KETIDAKHARUSAN memakan katak. Maka dari segi MAKNANYA ia lebih MENGHAMPIRI hasan bukan dhaif.


Hadis-hadis yang menegah ADA walaupun dhaif tetapi hadis-hadis yang menyuruh ataupun mengharuskan makan katak- yang dhaif pun tidak ada. Mengapa kita lebih memilih yang “TIDAK ADA LANGSUNG” berbanding yang “ADA JUGA”?


Sefaham saya juga, tidak kurang para ulama yang tidak mengharuskan makan binatang dua alam (amfibia) kecuali yang tidak berdarah. Ketam tidak berdarah, boleh saja dimakan sungguhpun dua alam. Katak berdarah, dan binatang berdarah kena sembelih dulu sedangkan katak tidak ada leher, seperti babi yang tidak ada leher sungguhpun ia berdarah.


Pengharaman amfibia banyak disebut dalam kitab-kitab Mazhab Syafie dan diberitahu kepada saya ia ditekankan dalam kitab Nihayatul Muhtaj karangan Syeikh ar-Ramli. Wallahualam.


Jadi sebahagian ulama berasa cukup warak dengan mengatakan harus makan katak. Sementara para ulama yang lebih berhati-hati (dan begitulah sepatutnya sikap kita) dan mahu lebih warak tidak mengharuskannya.

2) Artikel Siti Nurhuda Sanusi

Mengenai hukum memakan katak, ulama’ berbeza pandangan:

 Haram
Bagi sebahagian ulamak seperti Imam Syafie, Imam Ahmad bin Hanbal dan Nawawi menyatakan bahawa katak adalah haram dimakan kerana Rasulullah telah menegaskan adalah haram membunuh katak dengan sengaja sama ada untuk tujuan perubatan atau dijadikan sumber makanan . Jumhur juga mengatakan bahawa katak haram dimakan.

Ia berdasarkan dalil:

Daripada Abdul-Rahman bin Othman al-Qurasyi r.a mengatakan bahawa seorang tabib bertanya Rasulullah tentang katak yang dia gunakan sebagai ubat. Lalu Rasulullah melarang daripada membunuh katak.
(diriwayatkan dalam musnad Imam Ahmad, Abu Daud dan al-Nasai.)

Imam syafie dan para sahabatnya mengatakan: "Setiap haiwan yang dilarang dibunuh bermakna tidak boleh dimakan, kerana seandainya boleh dimakan, tentu tidak akan dilarang membunuhnya." (Lihat al-Majmu' (9/23) oleh Nawawi).

3)Artikel Abu Abbas

Dalam Islam, ada binatang yang diperintahkan dan dilarang dibunuh. Dan perintah itu berhubungan dengan kebolehan menyantap dagingnya.

Yang Dilarang dan Diperintahkan Dibunuh
Ada beberapa jenis binatang yang dilarang dalam Islam untuk dibunuh, seperti semut, lebah, burung Pelatuk (Hud-Hud), burung Shurad dan Katak. Sebagaimana dalam hadits dari Ibnu Abbas beliau berkata, yang artinya: “Sesungguhnya Nabi melarang membunuh empat hewan yaitu semut, lebah, burung Hud-Hud dan burung Shurad“ (HR: Ahmad dengan sanad yang shahih)

Dan Dari Abdurrahman bin Utsman bahwasanya seorang tabib bertanya kepada Nabi tentang katak yang dijadikan obat, lalu beliau melarang membunuhnya. (HR: Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah)

Demikian juga ada beberapa hewan yang diperintahkan dibunuh seperti Tikus, Ular, Kala jengking, Srigala, Rajawali, Gagak dan Cicak, sebagaimana ada dalam hadits, yang artinya: “Dari A’isyah beliau berkata, Rasululloh bersabda; Lima dari binatang semuanya jelek dan merusak dibunuh di luar tanah haram (tanah suci) dan di tanah suci, yaitu Gagak, Rajawali ,Kalajengking, Tikus, dan Srigala” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Sesungguhnya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Lima binatang jelek dan merusak, boleh dibunuh diluar tanah haram (tanah suci) dan di tanah suci, yaitu Ular, Gagak yang ada warna putih di perut atau punggung, Tikus, Srigala, dan Rajawali” (HR: Muslim)

Dari Ummu Syariek bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan membunuh Cicak. (HR: Al-Bukhari)

Dari A’isyah beliau berkata: “Sesungguhnya Rasululloh menceritakan kepada kami bahwa Nabi Ibrahim ketika dilemparkan kedalam api, tidak ada seekor hewan pun kecuali memadamkan api dari beliau kecuali Cicak. Reptil ini malah meniupkan api kepada beliau, sehingga Rasulullah memerintahkan untuk membunuhnya” (HR: Ahmad dan An-Nasa’i)

Hukum Makan Dagingnya
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memakan hewan-hewan tersebut yang terbagi dalam 2 pendapat, yaitu:

Pertama: Larangan dan perintah membunuh tersebut menunjukkan larangan memakannya.
Karena dengan perintah membunuhnya-padahal beliau melarang membunuh hewan yang halal tanpa tujuan untuk dimakan-menunjukkan pengharamannya. Dapat difahami bahwa semua yang diperbolehkan membunuhnya tanpa sembelihan syar’i adalah diharamkan mengonsumsinya, sebab bila diperbolehkan, tentulah Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membolehkan membunuhnya. Berdasarkan hal ini, diharamkan memakan seluruh hewan yang ada perintah atau larangan membunuhnya. Imam Al-Khathabi ketika menjelaskan keharaman membunuh Katak (Kodok) menyatakan: “Dalam hadits ini ada penunjukkan pengharaman makan Katak dan ia tidak masuk dalam binatang air yang dihalalkan. Semua hewan yang tidak boleh dibunuh, alasannya karena salah satu dari dua hal yaitu kesucian pada dirinya, seperti Manusia. Yang kedua karena pengharaman dagingnya seperti burung Hud-Hud, Shurad, dan sejenisnya. Apabila Katak tidak diharamkan dengan alasan pertama, maka tentu larangan itu kembali ke sebab yang lain. Rasulullah melarang menyembelih hewan kecuali untuk dimakan”. (lihat kitab Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Daud).

Di antara ulama sekarang yang menguatkankan pendapat ini adalah Syeikh Abdullah bin Abdurahman Ali Basam dalam kitab Taudhih Al-Ahkaam Syarah Bulugh Al-Maraam, beliau menyatakan: “Diantara ketentuan dan kaidah mengenal hewan dan burung yang haram dimakan dagingnya adalah perintah syariat untuk membunuhnya.”

Kedua: Perintah membunuh hewan atau larangan membunuhnya tidak mesti menunjukkan pengharamannya.
Kemungkinan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya karena hewan itu menyerang dan mengganggu manusia. Sebaliknya, beliau melarang membunuhnya karena hewan tersebut tidak mengganggu manusia. Di antara ulama yang menguatkan pendapat ini adalah Syeikh Shalih Al-Fauzan. Beliau menyatakan: “Yang kuat menurut saya adalah pendapat ini, karena pada asalnya penghalalan dan pengharaman hanya ada apabila ada dalil yang memindahkan dari hukum asal. Oleh sebab itu, yang tidak ada dalil shahih (yang memindahkan hukum tersebut), hukumnya adalah kehalalan jenis hewan ini (boleh dimakan). Sedangkan pendalilan tentang keharaman jenis hewan karena perintah membunuhnya, tidak menunjukkan pengharaman. Wallahu A’lam.”

Namun perlu diketahui bahwa di antara hewan-hewan yang disebutkan tadi, ada yang dilarang dengan sebab lain. Seperti binatang buas bertaring dan burung berkuku mencengkram seperti Srigala, Rajawali, Gagak, sehinga tidak dijadikan alasan penghalalannya. Demikianlah pendapat para ulama sekitar permasalahan ini, mudah-mudahan dapat menambah wawasan dan ilmu kita.

(Sumber Rujukan: kitab Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Daud, Info Halal, Mukhtasar Sahih Muslim, Taudhih Al-Ahkaam Syarah Bulugh Al-Maraam)

1 comment:

sejarahnusantara.com said...

emang ada orang yg makan katak ya..?